KISAH MEMILUKAN PERJUANGAN PEREMPUAN AFGHAN
Judul buku: A Thousand Splendid Suns
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Andhy Romdani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2007
Tebal: 510 hlm
Novel yang emosional dan sangat mengharukan. Saya sebut demikian karena setiap bab demi bab pada novel ini akan membuat hati para pembaca menjadi teraduk-aduk emosinya (haru, gelisah, tangis, kekejaman, ancaman, kematian serta kesengsaraan yang seakan tanpa batas).
Mungkin karena setting novel ini terjadi pada tahun 1975an hingga 1995an. Yang mana pada tahun – tahun tersebut terjadi banyak sekali pengambil alihan kekuasaan pemerintahan Afgan. Dimulai dari rezim pemerintahan Daud Khan – rezim komunis Uni Soviet dan Najibullah – rezim Ahmad Shah Massoud (Mujahidin) – sampai pada rezim ke-pemerintahan Taliban.
Sepanjang kurun waktu tersebut kaum perempuan senantiasa menjadi kaum yang paling tertindas dan terdzolimi baik oleh negara, agama, tradisi, budaya, dan masyarakat yang didominasi kaum pria.
Ketertindasan kaum perempuan pada masa itu dapat dilihat pada perjuangan hidup dua tokoh perempuan yang diangkat oleh penulis. Yang bernama Maryam dan Laila.
Kisah diawali saat Maryam mengetahui makna harami (anak haram). Dia tidak habis pikir mengapa ibunya (Nana) selalu memanggilnya dengan sebutan harami. Meski dia tahu bahwa dia memang Harami hasil hubungan gelap dari Nana dan Jalil. Maryam juga jengkel dengan cara mendidik Nana yang selalu sewenang – wenang, Nana selalu menganggap bahwa Maryam adalah anak haram yang tidak diinginkan, yang tidak pantas menerima cinta dan kasih sayang.
Berbeda dengan ayahnya (Jalil) yang walau hanya mengunjunginya seminggu sekali selalu menganggap Maryam sebagai anak yang baik, yang selalu memberi cinta, kasih dan sayangnya terhadap Maryam. Meski berulang kali ibunya bilang bahwa kasih sayang Jalil terhadapnya tidaklah tulus. Tapi Maryam tetap mencintai Jalil dan menganggap bahwa semua yang diberikan Jalil adalah tulus.
Sampai pada suatu saat Maryam nekat pergi ke rumah Jalil secara diam – diam. Namun kenekatanya harus dibayar dengan s`ngat mahal. Sepulang menemui Jalil, Maryam menemukan Nana tewas gantung diri.
Sontak kehidupan Mariam pun berubah. Sendiri kini dia menapaki hidup. Mengais – ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan oleh ayahnya dengan seorang tukang sepatu bernama (Rasheed).
Mulai dari bab 9 hingga bab 15 pembaca akan disuguhkan kehidupan baru Maryam bersama Rasheed. Pada awalnya Maryam cukup nyaman dengan kehidupan barunya. Namun setelah dia gagal memenuhi harapan Rasheed (baca: memberikan bayi laki – laki), watak Rasheed yang sesungguhnya pun muncul. Rasheed menjadi mudah marah, seolah – olah semua yang dilakukan Maryam itu salah. Tak jarang Maryam menerima berbagai macam pukulan dan tendangan dari Rasheed juga berbagai bentuk siksaan lainnya.
Selanjutnya pada bagian ke-2 novel ini, pembaca akan menikmati kisah hidup Laila. Berbeda dengan Maryam yang harus memulai kisah pilunya sejak kecil sebagai Harami. Laila kecil memiliki kehidupan normal yang cukup bahagia seperti kebanyakan anak se-usianya. Ayahnya adalah seorang guru yang cukup dihormati namun dia begitu tidak berdaya apabila berhadapan dengan ibu Laila (Fariba). Laila juga memiliki dua kakak laki-laki bernama (Ahmad & Noor) dan seorang sahabat laki-laki (Tariq) yang kelak menjadi kekasihnya.
Namun perang lah yang membuat hidup Laila berubah drastis. Dimulai dari kematian ke dua kakaknya yang tewas setelah berjihad membantu pasukan Mujahidin melawan para pasukan komunis dan Najibullah. Disusul kematian ke dua orangtuanya akibat terkena ledakan bom saat mereka ber-3 hendak bermi-grasi menuju Pakistan, sebelumnya kekasihnya Tariq sudah lebih dulu bermi-grasi ke sana. Laila bisa selamat dari kejadian naas tersebut karena diselamatkan oleh Rasheed (suami Maryam). Dengan membayar orang suruhan untuk membawa berita kematian palsu Tariq, Rasheed pun berhasil mempersunting Laila sebagai istri ke-2 nya.
Dimulai dari bab 27 sampai 47. Pembaca akan menikmati alur cerita dengan plot Laila dan Maryam pada setiap bab-nya secara bergantian. Seakan-akan pembaca diajak untuk ikut merasakan emosi kedua wanita Afghanistan tersebut.
Di akhir bab 45 emosi pembaca mungkin akan sedikit lega, karena Rasheed sang suami kejam tewas secara mengenaskan akibat terkena hantaman ayunan sekop Maryam. Meski akhirnya Maryam merelakan dirinya untuk dihukum mati.
Setelah peristiwa tersebut Laila akhirnya hidup bahagia di Murree (Pakistan) bersama ke-2 anaknya (Aziza & Zalmai) dan suami barunya yang dulu kekasihnya (Tariq). Namun setelah mendengar berita bahwa pasukan koalisi berhasil mengusir Taliban dari semua kota besar di Afghanistan. Laila berkeinginan untuk kembali ke tanah airnya. Demi memenuhi impian ke-2 orang tuanya dan juga impian rakyat Afghanistan untuk menjadi bangsa yang aman, damai, tentram dan sentosa.
Meski ending novel ini hanya dipenuhi dengan harapan/impian dan tidak berakhir dengan happy ending. Namun novel ini sangat bagus. Karena pembaca tidak hanya disuguhkan realitas sesungguhnya yang terjadi di Afghanistan. Saya pastikan pembaca akan mendapat tambahan wawasan tentang Rezim penguasa di Afghanistan mulai dari dampak perang dingin hingga era kekuasaan Taliban.
***
Achmad Jamaalun Yutho’, penulis dan penikmat buku, tinggal di Sidoarjo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar